Thursday, February 4, 2016

BUILD; Progress, Tantangan dan Respon - Part 2 [verbal attack]



Cerita berlanjut, pembangunan terus berjalan, orang mulai memperhatikan perubahan yang terjadi. Jika tahap pertama kemaren mereka kerjaannya bersih-bersih, siap-siap, planning dan lain sebagainya sekarang Yuuk lihat kembali apa yang terjadi di sana.

Tahap kedua ada dicatat di pasal 3 Kitab Nehemiah. Kemajuan mulai didapat tembok mulai terlihat berdiri, pintu-pintu mulai dipasang. Masing-masing teamnya Nehemiah yang bertanggung jawab atas pekerjaan masing-masing, mereka memberikan laporan atas apa yang mereka telah capai. This is a good one, orang-orang Yahudi sama seperti lazimnya orang Timur Tengah atau orang Timur pada umumnya hidup communal, berkomunitas, komunitas yang terdiri dari keluarga-keluarga. Masing-masing keluarga dan atau komunitas ini membangun bagian tertentu dari tembok Yerusalem tersebut. Masing-masing mempunyai tanggung jawab sesuai dengan wilayahnya. Kalau di Indonesia kita kenal dengan kerja bakti atau gotong royong dalam bersih-bersih desa, masih bisa kita jumpai di daerah-daerah rural. 

Di tahapan ini batu-batu yang disusun mulai menampakkan diri, sudah mulai membentuk sesuatu, tembok sudah mulai kelihatan akan berdiri. Ada progress yang signifikan. Orang-orang yang lewat mulai memperhatikan ada perubahan, ada kemajuan. Ini memicu orang-orang mulai berkomentar, komentar yang baik akan membuat kita bersemangat untuk terus membangun, terus melakukan apa yang kita lakukan yang membawa perubahan tersebut. Dan hendaknya perkataan kita itu menjadi sesuatu yang bisa membangun, membangun memberikan koreksi, membangun memberikan semangat. Saya kutip dari perkataan atau surat Paulus kepada orang Efesus.

But instead let your words become beautiful gifts (or constructive) that encourage others, do this by speaking word of grace to help them [Ephesians 4:29]

Sebab kita satu tubuh, satu bangunan. Jika perkataan kita saling menjatuhkan kita bukan satu tubuh, bukan satu bangunan. Jika perkataan kita membawa kerusakan berarti kita diluar tubuh, bukan satu tubuh.

Inilah yang dilakukan oleh Sanbalat dan Tobia, mereka bukan termasuk dalam teamnya Nehemiah, sehingga perkataan mereka mengolok-olok Nehemiah dan teamnya. 

Ketika Sanbalat mendengar bahwa kami orang Yahudi sedang memperbaiki tembok kota, ia menjadi marah sekali dan mulai mengejek kami. Di depan rekan-rekannya dan tentara Samaria, ia berkata,   "Apa yang sedang dikerjakan orang Yahudi celaka yang tidak bisa apa-apa itu? Apakah mereka mau membangun kembali kota ini? Sangka mereka pekerjaan itu dapat selesai dalam sehari, hanya dengan mempersembahkan kurban? Apakah timbunan sampah yang sudah hangus itu bisa mereka jadikan batu-batu tembok?"
Lalu Tobia yang berdiri di sampingnya berkata juga, "Lihat tembok yang mereka bangun! Anjing hutan pun bisa merobohkannya!"
(Nehemiah 4:1-3)

Akan ada orang-orang yang tidak senang akan upaya yang kita kerjakan mulai menampakkan hasil. Mereka mulai memakai perkataan-perkataan untuk meruntuhkan semangat kita, mengejek kita, menurunkan moral kerja kita dan seterusnya. “…Anjing hutan pun bisa merobohkannya…” Intinya mereka menyerang secara verbal.
Jika ini terjadi apa yang harus kita kerjakan? Apakah harus membalasnya? Saling mengejek tidak ada gunanya malahan akan membuat keadaan makin parah dan kerjaan membangun kita terganggu. Project ini Tuhan punya, jika ada gangguan tanyakan kepada yang punya Project, apa yang mesti dilakukan. Lihat apa yang Nehemiah kerjakan dalam merespon situasi ini.

Maka berdoalah aku, "Ya Allah, dengarlah bagaimana kami dihina! Timpakanlah penghinaan itu ke atas kepala mereka sendiri. Biarlah segala milik mereka dirampok dan mereka sendiri diangkut sebagai tawanan ke negeri asing. Jangan mengampuni kejahatan mereka dan jangan melupakan dosa mereka, sebab mereka telah menghina kami yang sedang membangun ini."
(Nehemiah 4:4-5)

Nehemiah tidak membalas perbuatan mereka tetapi Nehemiah berdoa, mengadu kepada TUHAN. Menjerit galau. “Ya Allah, dengarlah bagaimana kami dihina!”
Pada saat kita sedang membangun dan banyak orang yang menghina, biarkan saja. Kalua telinga kita merah tidak kuta menahan hinaan, lapor kepada Tuhan, berteriak, menjeritlah kepadaNya. Yang bagian kedua Anda bisa merasakan kekesalan hati Nehemiah dan geramnya dia terhadap musuh-musuhnya. Well keadaan yang berbeda, situasi yang rawan konflik, perasaan Nehemiah terhadap musuh-musuhnya dia ungkapkan kepada Tuhan adalah hal yang wajar. 

Nah sekarang melihat konteks ini bagaimana perasaan orang-orang sekitar Yesus ketika Yesus memberikan perintah baru.
"Kalian tahu bahwa ada juga ajaran seperti ini: cintailah kawan-kawanmu dan bencilah musuh-musuhmu. Tetapi sekarang Aku berkata kepadamu: cintailah musuh-musuhmu, dan doakanlah orang-orang yang menganiaya kalian, supaya kalian menjadi anak-anak Bapamu yang di surga. Sebab Allah menerbitkan matahari-Nya untuk orang yang baik dan untuk orang yang jahat juga. Ia menurunkan hujan untuk orang yang berbuat benar dan untuk orang yang berbuat jahat juga.
(Matthew 5:43-45)

Dengan sejarah dan budaya dan ajaran turun-temurun seperti Nehemiah, kemudian datang perintah dari Yesus, bagi orang Yahudi saat itu pasti seperti petir di siang hari. Standar yang dipakai Yesus lebih tinggi dari orang-orang Yahudi yang biasa pakai. Alih-alih menghilangkan hukum Torat, Yesus malah menyempurnakannya.

So?
Jika ada yang orang yang menghina kita dan mencoba menjatuhkan semangat kita dalam membangun, berdoa dan doakanlah mereka.

Ini Tahapan kedua dalam membangun dan tantangannya serta bagaimana mengatasi tantangan tersebut. Ada orang-orang diluar sana yang mengawasi kita, mengamat-amati pekerjaan kita. Kita adakah terang, kota diatas gunung yang pasti mendapatkan perhatian dari orang-orang yang lewat disekitar kita. Tidak suka akan kemajuan yang kita buat. Musuh ingin satu hal yang mereka capai menghambat pembangunan untuk menghentikan pembangunan itu sama sekali.

When what we build getting somewhere, Some people attack us verbally, hate with what we do, nothing wrong with us, they just hate what we have, waiting us to fall!

When it happened, don’t strike back! Instead, pray for them!

bersambung...

Tuesday, February 2, 2016

BUILD; Progress, Tantangan dan Jawaban/Respon Part 1



MEMBANGUN; PROGRESS, TANTANGAN, DAN JAWABAN
Sekali lagi menengok ke Nehemiah setelah beberapa tulisan terdahulu, saya melihat sebuah pola yang luar biasa, dalam kontek MEMBANGUN. Untuk mendapatkan konteks utuhnya silahkan anda baca seluruh Kitab Nehemiah, hanya 13 pasal.  Dan jika itu terlalu panjang anda hanya perlu membaca 7 pasal saja dimulai dari pasal 1. Kitab ini sangat luar biasa, Tuhan beri banyak hikmat dari Kitab Nehemiah ini. Pattern peran fasilitator dalam sebuah komunitas, baik DATE atau komunitas lainnya secara jelas dipaparkan dalam Kitab Nehemiah ini. Yang pada akhirnya memberikan Biblical foundation pada aktivitas fasilitasi yang dilakukan dilingkungan Pelayanan Classes Community. Tuhan keren!!

Thema tahunan gereja tempat saya beribadah JPCC di tahun 2016 adalah BUILD atau membangun, lanjutan dari thema tahun 2015 Level Up. Secara garis besarnya thema ini berkenaan dengan peran masing-masing tubuh Kristus untuk berkontribusi dalam Gereja TUHAN. Dan gereja yang dimaksud, sesuai perkataan Yesus kepada Petrus adalah bukan gedung melainkan orang-orang.
Kembali ke Nehemiah, memang secara literal yang dibangun oleh Nehemiah dan team nya adalah bangunan murni yang terdiri dari batu, pasir dan kayu. Namun kalau dilihat dengan seksama, manusia-manusia yang terlibat dalam pembangunan itu pada akhirnya terbangun juga jiwanya. Jadi saya mencoba memakai peristiwa Nehemiah ini menjadi analogi dan belajar sesuatu dari sini dalam pembangunan diri kita seutuhnya. 

So let’s begin

Nehemiah yang gelisah hatinya akhirnya diperhatikan oleh raja Artaxerxes. Nehemiah menceritakan kegalauannya tentang Yerusalem yang tinggal puing-puing dan juga keadaan orang-orang disana yang pulang dari pembuangan.  

Mereka menceritakan bahwa orang-orang bekas buangan yang telah kembali ke tanah air itu, kini hidup sengsara dan dihina oleh bangsa-bangsa asing yang ada di sekitarnya. Lagipula, tembok-tembok kota Yerusalem masih hancur berantakan dan pintu-pintu gerbangnya belum diperbaiki sejak dibakar di waktu yang lampau. (Nehemiah 1:3)

Nehemiah sedih hatinya atas keadaan orang-orang disana yang hidupnya sengsara  sehingga menjadi sasaran hinaan bangsa-bangsa lain yang tinggal disekitar mereka. Jadi Nehemiah kembali ke Yerusalem untuk membangun bukan serta merta hanya memikirkan bangunan fisik, namun justru orang-orang yang hidup di Yerusalem, kesengsaraan mereka membuat hati Nehemiah koyak!!
Mendengar berita itu, aku duduk dan menangis. Berhari-hari lamanya aku bersedih hati. Aku terus berpuasa sambil berdoa kepada Allah, (Nehemiah 1:4)

Singkat cerita Nehemiah diijinkan untuk pulang ke Yerusalem bahkan, Raja memberikan supply material untuk membangun Yerusalem. Raja menyediakan. Jika Tuhan yang memberikan Visi Tuhan jugalah yang akan menyediakan. This is Biblical Pattern!!

Selain itu, aku juga minta surat untuk Asaf, pengawas hutan kerajaan, supaya ia menyediakan kayu untuk pintu gerbang benteng di dekat Rumah TUHAN, dan untuk tembok kota serta rumah yang akan kudiami. Raja memenuhi semua permintaanku itu, karena Allah menolong aku. (Nehemiah 2:8)

Mari berhenti disini dan lihat kedalam kita, bukankah TUHAN juga sudah siapkan semua bahan-bahan bagi kita untuk membangun? Lewat Gereja tempat kita tertanam, lewat para pemimpin-pemimpin kita, lihat sekitar kita! Ibadah Raya di hari minggu penuh dengan bahan-bahan atau material yang kita perlukan untuk membagun ditambah dengan cara-cara dan tips-tips untuk membangun yang semuanya berlandaskan atas kebenaran  Firman Tuhan, ayo jangan kendur dan meninggalkan ibadah, meski pun antriannya sekarang sudah luar biasa. Selain Ibadah Raya,  Kita punya Date Community, Classes Community yang ada COB, COC, COL,VP, dan DB. Selain itu ada kelas-kelas khusus yang memberi bekal juga pada kita membuat diri kita dibangun semakin baik dari hari ke hari. Ada Parenting Classes, Ada Marriage Workshop, belum lagi Seminar-seminar, ada Kelas-kelas untuk mempersiapkan kita dalam memasuki pernikahan. Hampir semua kelas itu adalah free, seandainya membayar pun, ongkosnya yang kita berikan lebih kecil dibanding dengan manfaat yang kita dapatkan. Jadi tunggu apalagi? Daftarkan diri anda, mari belajar, mari membangun diri kita. Mari kita merespon seperti orang-orang Israel di Yeruslem saat itu ketika menjawab tantangan dari Nehemiah untuk membangun. 

Tetapi kemudian aku berkata kepada mereka, "Lihatlah keadaan kita yang sengsara ini! Yerusalem tinggal puing-puing dan pintu-pintu gerbangnya habis dimakan api. Marilah kita membangun kembali tembok-tembok kota Yerusalem supaya kita tidak dihina lagi." Lalu kuceritakan kepada mereka bagaimana Allah menolongku dan apa yang telah dikatakan raja kepadaku. Mereka menjawab, "Mari kita mulai membangun!" Lalu bersiap-siaplah mereka untuk mulai bekerja.
(Nehemiah 2:17-18)

Kemudian membangunlah mereka! Sama seperti kita sekarang, mulai membangun. Dan ceritapun mulai bergulir. Justru pada saat mulai membangunlah cerita kita mulai ditulis.
Akan ada suara-suara sumbang ketika kita ingin memulai sesuatu, entah kita ingin memulai hidup sehat, mengatur pola makan dengan asupan gizi yang seimbang, selalu saja ada suara yang membuat kita drop atau patah semangat. Pada saat kita memulai untuk berolah-raga, mencoba utnuk melakukan jogging atau running ada saja yang mengejek, pada saat kita mendaftar untuk join sebuah Gym Club ada saja yang mencibir, pada saat kita mulai membaca Alkitab dengan lebih rutin ada saja yang komentar untuk mematahkan semangat kita, mempertanyakan motivasi kita dan lain sebagainya. Yup, itu yang terjadi juga dengan Nehemiah dan team. 

Nehemiah hanya menjawab demikian:
Aku menjawab, "Allah penguasa di surga akan membuat pekerjaan kami berhasil. Kami adalah hamba-hambanya dan kami akan mulai membangun. Tetapi kamu tidak mempunyai hak atau milik apa pun di Yerusalem. Bahkan bila orang berbicara tentang Yerusalem, namamu tak akan disebut-sebut." (Nehemiah 2:20)

Ya, sama seperti Nehemiah, jika itu terjadi kembalikan kepada TUHAN, sebab TUHAN pimpinan Proyek ini. TUHAN yang berkepentingan. Bukan buat kemuliaan kita, bukan untuk membuat kita menjadi terkenal. Tetapi demi TUHAN dan umat-umatNya lah kita membangun. Sekali lagi Nehemiah membangun bukan buat dirinya, Nehemiah bisa santai saja di Istana Raja, tetapi Nehemiah mengasihi TUHAN dan mengasihi umat TUHAN, Love GOD and Love people. Nehemiah meninggalkan kenyamanan kerjaannya untuk pulang ke Yerusalem, dan hidupnya menjadi berdampak bagi banyak orang.  

Significant life will push you to leave your comfort zone! 
TUHAN akan beri suatu keresahan yang luar biasa

Dari teks kita tahu bahwa Yerusalem dan tembok-temboknya penuh dengan puing-puing yang berserakan akibat peperangan dan penyerbuan Babel dan Persia. Sehingga pekerjaan tahap pertama mereka adalah menyingkirkan puing-puing ini, memilah-milah adakah puing dan batu-batu yang berserakan itu bisa dipakai lagi, jika bisa pasti akan dipakai lagi bersamaan dengan material yang Raja Artaxerxes kepada Nehemiah, jika tidak disingkirkan dan dibakar. Kedua pekerjaan mereka adalah memeriksa fondasi dari tembok-tembok yang lama, setiap tukang batu dan tukang kayu jika mengerjakan proyek renovasi pasti akan melihat bangunan lama, termasuk pondasinya. Masih bagus tidak, masih kuat tidak untuk menyokong tembok baru yang akan dibangun diatasnya.
Pekerjaan ini orang tidak akan perhatikan, pekerjaan yang dilakukan sama seperti mengerjakan pondasi, tidak nampak hasilnya. Hanya seperti bersih-bersih saja, orang-orang tidak akan memperdulikannya. Demikian juga dengan Nehemiah, musuh-musuhnya pada tahapan ini tidak begitu perduli dengan apa yang dikerjakan oleh Nehemiah dan penduduk Yerusalem. Hanya komentar satu diatas kepada Nehemiah saat mereka, Tobia dan Sanbalat mengetahui niat Nehemiah.

Ketika rencana kami itu ketahuan oleh Sanbalat, Tobia dan Gesyem, seorang Arab, mereka menertawakan dan mengejek kami. Kata mereka, "Apa yang hendak kamu lakukan? Apakah kamu mau memberontak terhadap raja?"  (Nehemiah 2:19)

Komentar mereka muncul lagi di pasal 4 setelah ada kemajuan.
Teman-temanku, pada saat teman-teman sedang menyusun konsep, sedang merencanakan, membuat resolusi, mengumpulkan bahan-bahan seperti mencari buku, mencari mentor, berdiskusi dengan otoritas diatas teman-teman, bisa jadi tidak ada yang memperhatikan. Belum ada halangan yang berarti. Sama seperti Nehemiah dan team nya. Tidak ada gangguan yang berarti mereka meneruskan pekerjaannya sehingga mereka bisa terus maju sampai tahapan proses berikutnya.

When you start to build something mostly people won’t notice it.
It just between you and Your Maker.

Bersambung...

Tuesday, January 19, 2016

Tips Singkat dalam Menafsirkan atau Interpretasi suatu ayat/bagian dalam Alkitab

Seringkali dalam kita menafsirkan suatu ayat, pasal atau kitab, entah untuk keperluan devotional sendiri ataupun persiapan ketika kita ditunjuk untuk sharring Firman Tuhan di Date atau di Persekutuan kita sering mengalami kebingungan atau bisa jadi juga malahan salah menafsirkan dan melenceng dari apa yang dimaksud oleh penulis asalnya.

Dalam kesempatan ini saya ingin membagi sedikit tips atau langkah-langkah singkat dalam menafsirkan suatu ayat atau bagian dalam Alkitab. Tentunya diharapkan Saudara sudah mengikuti kelas Basic Deeper Bible. Nah jika Saudara belum mengikuti Kelas Basic Deeper Bible, jika saudara DATE member JPCC maka saudara dapat mendaftarkan Anda, pada hari minggu besok tanggal 24 January 2016 di semua service JPCC baik yang ada di Kota Kasablanka ataupun Upper Room, be there!!

Ready? 
Ini dia tips nya:

Aturan-Aturan Penafsiran yang baik
1.                   Definisi
Pastikan kata-kata yang bersama dipakai baik oleh mereka/audiens atau Anda memiliki arti/definisi yang sama dan bisa dimengerti bersama.  Salah satu trick yang dipakai suatu aliran/cult adalah memberikan sebuah arti baru dari sebuah kata theologia, yang hanya pengikut aliran itu saja yang bisa mengerti. Pastikan kedua belah pihak membicarakan satu hal yang sama. Pastikan jika Anda sedang berdiskusi, kedua belah pihak sama-sama mengerti arti dari setiap kata yang anda ucapkan dalam diskusi tersebut.

2.                   Penggunaannya
Bagaimana asal muasal penggunaan kata tersebut? Bagaimana kata tersebut digunakan dalam Perjanjian Baru atau Perjanjian Lama? Atau bagaimana penggunaannya saat jamannya Paulus. Penggunaan sebuah kata dan artinya bisa berubah sejalannya dengan perubahan jaman. Saat ini anak muda di dunia sekarang menggunakan kata “wicked” untuk mengatakan sesuatu yang “good”,  “Awesome”

3.                   Konteks
Setiap kata haruslah diartikan sesuai dengan keinginan penulis bagaiman ia ingin mengartikan kata tersebut.  Contoh kata “grace”, bagi Paulus kata “grace”  memiliki arti lebih mendalam, dibandingkan dengan arti dari kata itu sendiri di abad pertama.   Kata-kata hanya akan berarti dan bisa dimengerti dalam konteks sesungguhnya jika kalimat-kalimat yang ada bisa saling tersambungkan, contohnya Tulisan-tulisan Paulus. Ada banyak kata-kata yang dulu nya umum atau biasa dipakai oleh khalayak ramai pada masa awal gereja berubah makna nya, artinya menjadi lebih mendalam dari sebelumnya, atau menjadi lebih sempit maknanya, setelah dipakai oleh para penulis Kitan, namun untuk menemukan itu kita harus mencari tahu asal muasal dan konteks pada mulanya terlebih dahulu.

4.                   Logika         
Komunikasi yang baik harus lah logis, masuk pada logika,  oleh sebab itu setiap kalimat ataupun ungkapan harus jelas dan bisa dimengerti dan mengalir dengan baik dengan kalimat-kalimat disekelilingnya.  Kalimat-kalimatnya harus saling terhubung secara logis kepada buah pikiran yang dinyatakan didalamnya. Jika terlihat tidak ada koneksi mungkin saja Anda belum menemukan tujuan atau maksud kalimat-kalimat tersebut. Ada benang merah yang menghubungkannya, itulah yang harus anda temukan. Dalam Kelas Basic Deeper Bible kita kenal istilah Sense Unit, suatu bagian yang masuk akal.

5.                   Kesudahan/Akhir
Tidak semua pemikiran harus dibuat pernyataan secara gamblang. Tidak semua informasi implisit harus dinyatakan. Beberapa kesimpulan dapat juga ditutup dengan perkataan yang sudah disebutkan sebelumnya. Kita bisa menyimpulkan dengan cara deduksi apa yang akan orang tersebut maksudkan dengan melihat hubungan logis dari apa yang telah disampikan sebelumnya. Kita bisa menduga kesimpulan yang akan terjadi dari perkataan yang sudah mereka sampaikan sebelumnya. Contohnya nyata seperti Paulus yang memakai kalimat retorik daripada sebuah pernyataan kesimpulan.

6.                   Genre
Setiap genre harus diinterpretasikan dengan cara yang berbeda. Belajarlah untuk menginterpretasikan masing-masing genre dengan cara yang berbeda-beda. (lihat DB 101 sesi ke 2) Sama seperti film kita menontonnya juga berbeda-beda. Film action akan sangat berbeda dengan film drama dan kita tidak mungkin berpandangan sama dalam menghayatinya.



Secara singkat begitu tip-tip nya, saudara dapat menerapkannya dalam membaca atau pun belajar tentang Alkitab.

Jika ada pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu dan sungkan, silahkan kirim pertanyaannya. Saya akan dengan senang hati membantu Saudara, semampu saya tentunya.

Sampai bertemu di Kelas BASIC DEEPER BIBLE yang akan mulai tanggal 15 February 2016.

See yaaaa!!!!


Saturday, January 9, 2016

Be Sober Be Vigilant part2, Praying together, Act together, Speak the Word of GOD



Wah udah balik lagi, pasti ngga malam mingguan nih? Tau aja! Eh sudah dulu lah bahas yang itu, sekarang balik lagi lanjutan yang diatas, tentang membangun dalam konteks situasi yang dihadapi oleh Nehemiah dengan pedang dan sekop.

Dalam konteks membangun diri sendiri, lalu membangun keluarga atau membangun komunitas. Kita akan teringat pada kisah Juru Minum Raja yang kemudian menjadi Bupati. Sebuah karir politik yang melejit cukup luar biasa. Kita akan teringat yang namanya Nehemiah ketika pulang ke Yerusalem dari pengasingan dan kemudian mulai membangun lagi reruntuhan tembok Yerusalem. Situasi yang hampir sama yang Yesus singgung ketika berbicara dengan murid-muridNya sebelum ditangkap, dalam konteks menggunakan pedang atau senjata, namun masih tetap membangun dan bekerja. Mari kita baca di Nehemiah.

Sejak hari itu sebagian dari pada anak buahku melakukan pekerjaan, dan sebagian yang lain memegang tombak, perisai dan panah dan mengenakan baju zirah, sedang para pemimpin berdiri di belakang segenap kaum Yehuda yang membangun di tembok. Orang-orang yang memikul dan mengangkut melakukan pekerjaannya dengan satu tangan dan dengan tangan yang lain mereka memegang senjata. Setiap orang yang membangun bekerja dengan berikatkan pedang pada pinggangnya, dan di sampingku berdiri peniup sangkakala.  (Nehemiah 4:16-18)

Ada frase Sejak hari itu, jadi situasi yang berbeda. Ada perubahan dari situasi awal, ada perubahan dari situasi normal. Sejak kapan? Apa yang terjadi? 

Ketika Sanbalat dan Tobia serta orang Arab dan orang Amon dan orang Asdod mendengar, bahwa pekerjaan perbaikan tembok Yerusalem maju dan bahwa lobang-lobang tembok mulai tertutup, maka sangat marahlah mereka. Mereka semua mengadakan persepakatan bersama untuk memerangi Yerusalem dan mengadakan kekacauan di sana.  (Nehemiah 4:7-8)

Musuh melihat progress yang luar biasa dari pembangunan tembok Yerusalem, mereka mulai cemas dan kemudian mereka mulai meningkatkan masalah kepada orang Israel. Pertama-tama mereka hanya mencemooh dan menghina saja, meruntuhkan mental orang-orang Yahudi. Namun siasat ini tidak berhasil. Nehemiah mampu memimpin bangsa ini untuk focus membangun, kemajuan tercapai lobang-lobang tembok mulai tertutup. PROGRESS membuat musuh CEMAS, dan PROGRESS membuat musuh meningkatkan serangan mereka. Semakin tinggi pohon tumbuh, semakin kencang angina bertiup.
Situasi berubah! Hikmat diperlukan, perlu pendekatan berbeda, perlu cara yang berbeda juga. Dan lihatlah apa yang dilakukan Nehemiah:

Tetapi kami berdoa kepada Allah kami, dan mengadakan penjagaan terhadap mereka siang dan malam karena sikap mereka.  (Nehemiah 4:9)

Yes!!! Yang dilakukan Nehemiah dan orang-orang Yahudi pertama kali ketika menemui masalah adalah BERDOA! Keren!!
Dan tidak berhenti sampai disitu saja, lamgkah berikutnya adalah BERTINDAK!!


Maka aku tempatkan rakyat menurut kaum keluarganya dengan pedang, tombak dan panah di bagian-bagian yang paling rendah dari tempat itu, di belakang tembok, di tempat-tempat yang terbuka. Kuamati semuanya, lalu bangun berdiri dan berkata kepada para pemuka dan para penguasa dan kepada orang-orang yang lain: "Jangan kamu takut terhadap mereka! Ingatlah kepada Tuhan yang maha besar dan dahsyat dan berperanglah untuk saudara-saudaramu, untuk anak-anak lelaki dan anak-anak perempuanmu, untuk isterimu dan rumahmu."  (Nehemiah 4:13-14)

Jadi yang dilakukan Nehemia ketika situasi berubah :

BERDOA
BERTINDAK STRATEGIS
MEMPERKATAKAN FIRMAN TUHAN

Dalam bertindak strategis Nehemiah tidak sembarangan, tetapi penuh perhitungan. Dan Nehemiah memakai basis keluarga untuk pembangunan dan pertahanan. Perhatikan Nehemiah menempatkan rakyat menurut kaum keluarganya dengan pedang, tombak dan panah.
Nah kalau kita kembali kepada bagian awal Nehemia, Nehemiah 3 ada begitu banyak daftar nama disana yang ditempatkan per wilayah.
Jadi masing-masing keluarga, masing-masing komunitas bertanggung jawab atas wilayah tanggung jawab nya masing-masing, dan ini semua tersambung dalam satu ikatan besar membangun tembok yang utuh.
Inilah yang terjadi, masing-masing komunitas berjaga dan membangun di area tanggung jawabnya masing-masing, tangan mereka kanan dan kiri masing masing bekerja berbeda, satu tangan memegang senjata, satu tangan untuk bekerja, mengangkut, memikul atau pekerjaan lainnya, sementara yang lain juga dalam posisi yang sedemikian rupa saling menjagai satu dengan yang lain. Wow luar biasa!!
Jika satu bagian saja kena ancaman, berarti ancaman bagi seluruh pekerjaan. Dan masing-masing komunitas mempunyai tanggung jawab yang sama membangun area nya. Tentunya anggota keluarga yang terlibat pastilah siap sedia, orang-orang yang sudah terbangun kan. Semangat mereka yang sempat rontok dibangun dengan doa, dibangun dengan tindakan strategis yang nyata dan kemudian dikuatkan dengan memperkatakan Firman TUHAN dan basisnya adalah komunitas, basisnya adalah keluarga. Keluarga yang bisa membangun adalah keluarga yang berdoa bersama-sama, keluarga yang melakukan strategi dengan satu komando, keluarga yang selalu memperkatakan FIRMAN TUHAN. Lihat apa yang terjadi setelah itu semua dilakukan, pekerjaan membangun Tembok bisa dilanjutkan lagi. Komunitas yang bisa membangun adalah komunitas yang berdoa bersama, saling mendoakan, komunitas yang saling menguatkan satu sama lain, bertindak dalam satu symphony, dan tidak lupa selalu mengingat dan memperkatakan FIRMAN TUHAN bersama.
Tetap bekerja, tetap berpedang, tetap berkarya dan terus berjaga jaga!
Let’s do those together!! We are family!

Mario Puzo wrote, “ The strength of a family like the strength of an army, is in its loyalty to each other”