Showing posts with label torah. Show all posts
Showing posts with label torah. Show all posts

Sunday, January 7, 2018

TEKHELET - Temui AKU di Ujung Langit Tengah Malam




Tahun ini kembali membaca Alkitab per buku, Bulan Januari saya dedikasikan untuk membaca semua Kitab Injil. 3 pasal mazmur per minnggu (dihapalkan jika perlu) dan Amsal satu pasal sehari.
Hari minggu ini menutup pembacaacn saya injil Markus, ada satu perikop yang memberkati saya sebuah kisah sederhana dari orang yang sangat sederhana namun memahami Firman TUHAN dengan memiliki iman yang sederhana. Belaja dari perempuan yang sakit perdarahan.

Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: "Siapa yang menjamah jubah-Ku?" Murid-murid-Nya menjawab: "Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?" Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya. Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!" (Mar 5:28-34)

"Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."

Ini iman yang sangat luar biasa asal jamah jubahnya pasti sembuh! SEDERHANA namun POWERFUL, tidak melakukan sesuatu yang aneh bukan? Meskipun menuju kesana perempuan ini mesti berjuang luar biasa, namun kenapa mesti jubahnya

Kitab markus tidak meberikan detail, hanya mengatakan jubah tetapi lukas yang dikenald engan kedetailannya memerikan informasi yang lebih kepada kita.


Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya, dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya. (Luk 8:44)

she slipped in from behind and touched the edge of Jesus' robe (kraspedou). At that very moment her hemorrhaging stopped. Luke 8 (The Message)

Bandingankan dengan yang dikatakan di kitab bilangan

"Speak to the People of Israel. Tell them that from now on they are to make tassels (tzitzit) on the corners of their garments and to mark each corner tassel with a blue thread. Bil 15:38  (The Message)

Tzitzit atau fringes/ tassel = pinggiran/ rumbai, disebut kraspedou = the fringe of a garment = pinggiran/rumbai baju

Orang-orang Israel tidak sembarangan dalam berpakain sehari-hari, apalagi seorang rabbi yang disegani seperti Yesus, kita lihat pakaian tradisional yang dipakai oleh orang-orang Yahudi diperintahkan oleh TUHAN.

ayat diatas dalam bahasa Indonesia dan Ibrani : 

"Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka, bahwa mereka harus membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka, turun-temurun, dan dalam jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan." Bil 15:38

Daber el-Benei Yisrael veamarta alehem veasu lahem Tzitzit al-kanfei vigdeihem ledortam venatnu al-Tzitzit hakanaf petil tekhelet

Kitab Bilangan mengajarkan pengenalan kepada Allah, supaya orang-orang Israel mengenal TUHAN, demikian juga kita, Kitab Bilangan menggambarkan kerinduan TUHAN pertumbuhan akan iman dari umat-Nya, hidup benar, ada reward dan ada juga balasan dan hukuman-Nya atas pemberontakan, dan maksud TUHAN  pasti akan terlaksana, pasti akan terwujud. 

Kitab Bilangan adalah "Kitab Disiplin Ilahi" yg menunjukkan bahwa Allah memang mendisiplinkan dan memperingatkan, memberikan hukuman  umat-Nya sendiri ketika mereka terus mengeluh dan tidak percaya (Bil 13:1 -- 14:45). Kitab bilangan adalah kitab iman. Tanpa iman tidak mungkin kita berkenan kepada Allah (Ibrani 11:6). Israel tidak beriman, memberontak dan tidak berterimakasih atas mujizat-mujizat dan pemeliharaan Allah. Kitab Bilangan yang berbahasa Ibrani dikenal dengan nama "Di Padang Gurun". Mencatat perjalanan bangsa Israel di padang gurun. 

Lebih jelas tentang kitab Bilagan langsung saja klik Pengantar Untuk Bilangan.

Jumbai punca ungu kebiru-biruan

Punca jubah umum diketemukan dalam budaya timur tengah, mesir ataupun Mesopotamia, bagi bangsa bangsa ini pemakian punca dengan hiasan hanya sebagai pemanis jubbah mereka. 
Tetapi sama seprti benda-benda lain yang disebutkan dalam Hukum Perjanjian Lama, benda-benda ini seklaipin kecil mereka ada disana karean memiliki arti secara yang dalam dan ada tujuannya kenapa diperintahkan memakainya. TUHAN memberikan perintah selalu signifikan ada artinya, untuk selalu mengingat TUHAN dan perintah-perintahNYA.

Kita lihat di Kitab bilangan tujuan TUHAN dengan jumbai punca jubah ini:

"Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka, bahwa mereka harus membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka, turun-temurun, dan dalam jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan. Maka jumbai itu akan mengingatkan kamu, apabila kamu melihatnya, kepada segala perintah TUHAN, sehingga kamu melakukannya dan tidak lagi menuruti hatimu atau matamu sendiri, seperti biasa kamu perbuat dalam ketidaksetiaanmu terhadap TUHAN. Maksudnya supaya kamu mengingat dan melakukan segala perintah-Ku dan menjadi kudus bagi Allahmu. Akulah TUHAN, Allahmu, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, supaya Aku menjadi Allah bagimu; Akulah TUHAN, Allahmu." (Num 15:38-41)

Jumbai jubah ini sebagai pengingat dan garansi bangsa Israel TUHAN menyertai mereka selama mereka hidup didalam hukum TUHAN.

Kata Tzitzit sendiri secara harfiah berarti "kepang, anyaman". Dengan demikian desain Tzitzit harus seperti yang dari jalinan / mengepang rambut yang desain sama dengan link di rantai. Mengenakan tzitzit adalah perintah Alkitabiah, dalam Bilangan 15:38 dan juga dalam Ulangan 22:12, "Anda harus membuat diri benang memutar, pada empat sudut pakaian Anda dengan yang Anda menutup sendiri." Menurut Taurat, tujuan mengenakan tzitzit adalah untuk mengingatkan orang-orang Yahudi dari kewajiban agama mereka. Selain itu, ia berfungsi sebagai pengingat keluar dari Mesir (Bilangan 15:40).

KEPASTIAN HUKUM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN KEPADA ORANG ISRAEL
KETIKA MEREKA HIDUP DILUAR HUKUM, MAKA PERLINDUNGAN ITU TIDAK ADA LAGI PADA HIDUP MEREKA

Kita beralih pada warna biru keunguan. Bahasa Inggris Alkitab Terjemahan biasanya menerjemahkan kata Ibrani tekhelet, yaitu warna "biru"..
"Blue" mungkin terjemahan bahasa Inggris yang paling sederhana dari istilah tekhelet, tetapi seperti yang sering terjadi dalam menterjemahkan bahasa Ibrani, sesuatu nuansa yang hilang. 
Tekhelet pada orang-orang ibrani purba dipakai untuk menunjukkan adalah warna langit. Tekhelet ukan warna langit seperti yang kita tahu siang hari. Tekhelet adalah  warna langit di tengah malam, saat langit bersih dan hanya ada bintang tanpa awan, pada saat kita sendirian di malam hari, dan melihat langit serasa kita dekat dengan PENCIPTA LANGIT, ALAM SEMESTA, serasa kita dapat menjangkau Allah, dan itulah yang tekhelet yang mengingatkan kepada Allah. Warna ini yang dipakai dalam bendera Bintang David negara Israel

Benang berwarna biru yang ikut terjalin dalam kepangan tzitzit, melambangkan kehadiran Allah dalam kehidupan yang mentaati perintah Allah. Perintah ini sepertinya sepele dan terkesan sangat religius yang statis, tetapi Tuhan benar-benar serius dengan Bangsa Israel. Perintah yang dibuat bukanlah untuk menyusahkan hidup Israel itu sendiri tetapi justru untuk memudahkan Israel untuk mendapatkan perhatian dari Allah. Kitab Bilangan adalah kitab iman, dimana Tuhan mengajarkan iman kepada bangsa Israel. Artinya Tuhan mengajarkan kterbergantungan Israel kepada Tuhan sendiri melalui mentaati perintah-Nya itu. Walaupun Bangsa Israel memberontak terhadap Tuhan, sepertinya Tuhan masih saja memberi peluang 'reward' bagi siapa yang mentaati Dia. Nature Allah adalah diberikan penghormatan. Ketika kita dapat menghormati Allah, seperti kita menekan tombol yang benar untuk membuat Allah mengarahkan mata-Nya kepada kita dan memberikan apa saja yang kita minta.

Tuhan ingin kita aman di bawah perlindungan hukum-hukum-Nya itu. Penyebab manusia jatuh dalam dosa adalah keinginan manusia untuk keluar dari perlindungan hukum Allah itu, manusia merasa tidak 'aman' berada di bawah hukum Allah dan mencari perlindungan yang baru, yang dia pikir dapat membuat 'aman' hatinya. Manusia memilih hukum lain yang bukan hukum Allah untuk 'merasa aman' di situ. Jika sudah keluar dari hukum Allah, maka manusia tak perlu taat kepada hukum Allah itu tetapi hukum lain yang baru dianutnya itu. Ini membuat Allah marah terhadap manusia, oleh sebab itu manusia dikatakan telah memberontak terhadap Allah. Dosa ini seperti dosa perselingkuhan, umat-Nya telah berselingkuh dan meninggalkan Dia. Tak sadar manusia telah tergadai dan menjadi budak pada majikan barunya yang mempunyai hukum lain itu. Oleh sebab itu Allah mengirimkan Anak-Nya sendiri untuk menebus, mengambil kembali umat-Nya yang telah tergadai itu. Tebusannya tidak tanggung-tanggung, darah Anak-Nya sendiri. Allah harus relakan Anak-Nya disembelih demi untuk mendapatkan kembali umat-Nya itu.

Jadi punca, jumbai, ujung jubahnya, tzitzit yang berwarna langit biru tengah malam, melambangkan kehadiran TUHAN dan dalam Kehadiran TUHAN ada kepastian janjiNya dan garansi akan KEPASTIAN HUKUM dan KETETAPANNYA.


Ketika orang-orang Israel memaki Tzitzit Tekhelet ini atau melihat orang yang memakai Tzitzit Tekhelet ini, mereka diingatkan akan Kehadiran TUHAN dalam kehidupan sehari-hari dan didalam hadiratNya ada kuasa dan hadiratNYA membawa pembebasan, hadiratNya berarti janji akan ditegakkan sesuai dengan Hukum yang diberikannya pada orang Israel di padang gurun.


Pemakaian jubah dengan jumbai atau tzizit tidak lagi umum bagi orang kebanyakan tetapi masih dipelihara oleh orang-orang Lewi, bangsawan dan orang-orang terpandang terpelajar, seperti para Rabbi dan, orang awam pun masih bisa melihat dalam kehidupan mereka sehari, bahkan sekarang di era israel modern jika kita berkunjung ke Israel kita bisa menemukan orang-orang Yahudi memakai Tzitzit ini. Yesus pada jaman itu adalah seorang Rabbi Yahudi, jadi hampir dipastikan bahwa Yesus memakai jubah dengan tzizit.

Ketika perempuan yang pendarahan itu menyentuh ujung jumbai (tzitzit/ kraspedou) jubah Yesus, seketika itu juga ia menjadi sembuh, dan Yesus merasakan seperti ada kuasa yang keluar dari diri-Nya,


"Siapa yang menjamah Aku..... Ada seorang yang menjamah Aku, sebab aku merasa ada kuasa yang keluar dari diri-Ku".


Ketika kita berani datang kepada Allah dan menyentuh-Nya dengan hormat (dengan iman), maka perhatian-Nya akan tertuju kepada kita. Apa yang kita minta segera mengalir untuk kita. Asalkan kita mau tunduk dan bernaung dalam hukum-Nya, kuasa TUHAN akan turun maka berkat itu akan tercura, sesuai dengan kebutuhan kita

Perintah-Nya itu bukanlah untuk menyulitkan kita tetapi justru memudahkan kita mendapatkan apa yang kita minta. Yesus berkata "mintalah maka kamu akan diberi", sederhana dan tidak terdengar religius.

Malahan muridnya meminta hal yang ribet, religius, berpola, dan sistematik "ajarkan kami berdoa seperti Yohanes mengajarkan murid-muridnya". Yesus tidak menolak untuk menjawab permintaan mereka, Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami, yang sampai saat ini masih diliturgikan di beberapa gereja, inipun baik adanya, karena ini adalah ajaran Yesus sendiri. 

Namun kita dapat melihat keseluruahan di Lukas 11, bahwa Yesus mengajarkan hal lain yang lebih simpel dan ga religius sama sekali, dan memberikan penekanan khusus, sampai memberikan ilustrasi supaya murid-murid mengerti, cukup berkata "mintalah maka akan diberi". 

Perempuan ini jika memikirkan liturgy atau cara-cara bagaimana mendekati yesus pada saat itu, tidak mungkin, sebab dia sakit berdarah, najis, jika ketahuan maka nyawanya melayang, bukan kesembuhan yang didapat namun kematian, namun dia tahu seperti di perjanjian lama pun seharusnya orang Israel tinggal minta saja, tidak perlu melakukan hal-hal lain karena hadirat TUHAN bersama mereka, temukan dan hampiri dengan ketakjuban dan iman. Ini yang dilakukan oleh perempuan tersebut dan dia mendapatkan hal terpenting yang sangat dia butuhkan. KESEMBUHAN.

Beriman kepada Tuhan Yesus Kristus berarti, bersandar pada-Nya, bersedia hidup di bawah Firman yang Dia ucapkan. Jubah yang berbeda, yang ber-'tzitzit' itu membuat orang yang memakainya menjadi berbeda. Orang yang taat akan Firman terkadang (tapi ga selalu lohh) akan terlihat lebih aneh, nyentrik, berbeda, "gw beda", namun esensinya adalah ketaatan kita akan hal-hal yang terlihat sepele menentukan hal-hal besar yang akan diberikan-Nya sebagai tanggung jawab. 

Kekristenan akan menjadi lebih masuk akal ketika kita mau taat terhadap hal kecil (tidak menunggu hal besar dulu -- menghadapi hal yg terlihat mustahil baru kelimpungan cari Tuhan, makanya terlihat jadi lebih aneh dan freak). 

Jika kita sudah terbiasa mentaati perintah Tuhan yang terlihat sepele/ kecil/ sederhana banget  maka kita tidak perlu mengeluarkan usaha yang terlalu besar untuk menghadapi perkara yang terlihat lebih besar dan memerlukan ketaatan yang lebih besar pula, karena otot rohani kita dan insting dan intuisi kita pastinya sudah jauh lebih terlatih.

Perempuan sederhana ini tahu, apa makna dari Tzitzit ini, ada otoritas TUHAN dilambangkan oleh pribadi yang mengenakan Tzitzit, oleh sebab itu dia memberanikan diri untuk menyentuhnya dengan hormat, dengan kekaguman akan langit tengah malam, menjamah dengan iman, sehingga dia mendapatkan apa yang dia seharusnya dapatkan, sesuai dengan garansi, sesuai dengan ketentuan dan hukum yang berlaku.

Ahhh jadi kangen langit tengah malam di sabana Merbabu!
Kapan kita ke gunung lagi kawan?

Mengawali Tahun yang baru ini, yuuk ah belajar taat dari hal yang sederhana, dan selalu ingat bahwa TUHAN hadir dalam hal-hal yang paling sederhana, yang kita temui sehari-hari, Kuasa TUHAN nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Saat kita memandang langit tengah malam, kita tahu bahwa TUHAN berkenan ditemui dan disapa! 
Dan DIA rindu supaya kita datang menemuinya, tidak hanya karena kita punya kebutuhan tetapi kita datang karena kekaguman atas kasih sayangNya kepada kita

Tuesday, April 11, 2017

Sebuah Pengantar untuk Kitab Ulangan


KETIKA MUSA MEMUTAR KEMBALI SEJARAH



Buku atau kitab ini sering disebut dengan "Elleh hadebarim", atau Debarim atau Devarim, memang dalam bahasa Ibrani nya kata awal dalam kita ini adalah kata-kata diatas tersebut, demikianlah Israel memberi nama kitab Musa kelima ini, artinya pengulangan Hukum dalam bahasa Syria dan Arab juga memakai nama dengan arti tersebut repetisi, namun ketika diterjemahkan dalam bahwa Yunani menjadi “Deuteronomy” bukan berarti yang kedua, atau hukum yang baru atau hukum yang lain yang baru diterima. Yang ditulis di Kitab Ulangan ini adalah hukum yang sama yang Musa sampaikan di Bilangan dan Imamat saat di Sinai. 
Sekarang diulangi lagi dan juga dijelaskan lebih lagi oleh Musa kepada Bangsa Israel yang mengembara di padang gurun selama 40 tahun. Kenapa disampikan lagi karena bangsa Israel kali ini adalah bukan bangsa Israel yang sama, selama 40 tahun generasi yang melewati laut Merah sudah mati semua akibat ketidaktaatan dan pemberontakan mereka yang tertinggal hanyalah Musa, Joshua, Caleb. 
Generasi sekarang ini tidak atau belum lahir saat disinai jika sudah lahir pastinya mereka juga tidak Ingat atau tidak tahu apa yang Musa sampaikan 40 tahun yang lalu dihadapan babak-baoaknya. Sehingga menjelang mereka masuk Kanaan generasi ini harus mendengar hukum and ketetapan-ketetapan TUHAN supaya mereka taat kepada TUHAN dan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan leluhurnya. 
Jadi Musa harus membaca dan menjelaskan Hukum tersebut untuk kedua kalinya dan generasi baru ini harus memperbaharui Perjanjian dengan TUHAN. Itulah yang menjadi alasan buku ini ada dan mengpa 10 HUKUM TORAH atau totalnya 613 Hukum Musa ini dibacakan ulang disini.


Ini waktunya bangsa Israel akan menyebarang ke Kanaan, ke negeri yang dijanjikan oleh TUHAN kepada nenek moyang mereka.  Selama di padang gurun mereka berjalan sendiri, bangsa yang mengembara, negeri yang mereka tinggalkan 38 tahun lalu menjadi berbeda, tidak sama lagi, musuh sudah berkembang banyak dan menduduki Tanah Kanaan, dan mereka harus bersiap-siap menghadapi mereka. Jadi kitab Hukum dan ketettapan dibacakan lagi saat mereka berkemah di sisi timur sungai Jordan, dengan dibacanya ulang Kitab Hukum tersebut maka bangsa ini tahu apa yang TUHAN mau mereka perlu lakukan.


Dan kita harus tahu juga bahwa pemimpin mereka yang menyertai dan memimpin mereka selama 40 tahun ini tidak akan ikut menyebrang dan masuk Kanaan bersama mereka, karena  ketidaktaatan Musa. Tuhan sudah memberitahu Musa bahwa hidupnya tidak akan lama lagi, dalam waktu 7 hari Musa akan mati. Sehingga penting untuk memastikan bahwa generasi baru ini benar-benar tahu dan mengerti tentang sejarah bangsanya dan siap untuk mengukir sejarah baru bagi bangsanya. Memahami masa lalu mengapa sampai di tempat ini dan bersiap menyosngsong masa depan. Bahkan mereka akan mengalami mujizat yang sama TUHAN membelah air dan mereka berjalan di tanah yang kering ditengah-tengahnya, jika dulu TUHAN membelah laut Merah, kali ini TUHAN akan membelah Sungai Yordan yang sedang banjir, mengeringkannya sehingga mereka berjalan dan menyebarang ditengah-tengah sungai Yordan yang kering.


TUHAN bergerak dalam pola dan pattern, kita melihat di Keluaran, TUHAN membawa Isarel keluar dari Mesir melewati laut Merah dan kemudian membuat Perjanjian, Covenant di gunung Sinai. TUHAN tidak akan memerintahkan Israel untuk hidup sesuai dengan hukum-hukumnya sampai TUHAN menyelamatkanya, Nah pola ini kan juga kita lihat sepnajang perjanjian Baru dan Perjanjian Lama, seluruh Alkitab. Dan juga dalam hidup kita sebagai orang percaya yang TUHAN bebaskan dan selamatakan dan belenggu dosa. TUHAN akan tunjukan kepada kita kasih karuniaNYA dengan membebaskan dan menyelamatkan kita baru kemudian TUHAN akan berikan cara-cara bagaimana seharusnya kita hidup sebagai orang yang sudah diselamatkan.

Pola yang sama, generasi baru ini akan melihat TUHAN menyeberangajn mereka melewati Sungai Yordan yang sedang banjir besar, dan setelah itu mereka akan tiba di Gunung Ebal dan Gerizim, dan TUHAN akan memperbaharui Perjanjiannya dengan Israel lewat generasi ini. akan terjadi pengulangan, repetisi peristiwa 40 tahun yang lalu di Sinai buat generasi baru ini.


Jadi inilah buku terakhir yang Musa tulis, yang ditulis dan dibacakan oleh Musa sendiri di perkemahan Israel di sisi Timur Sungai Yordan pada saat Musa masih hiudp dan masih memimpin mereka. Hanya 8 ayat terakhir bisa jadi bukan Musa yang menulis yang memberikan rincian tentang kematian Musa, bisa jadi Imam Eleazer yang menulis atau imam lainnya atau mungkin juga Samuel, namun bisa juga Joshua yang memberikan 8 ayat penutup tersebut.


Kitab Ulangan juga mempertegas janji yang diberikan TUHAN kepada Israel lewat nenek moyang mereka, kalimat seperti “tanah yang dijanjikan TUHAN” “tanah yang diberikan TUHAN” terus berulang sepanjang kitab Ulangan ini. Israel diingatkan kembali oleh Musa bahwa Tanah Kanaan adalah hadiah dari TUHAN yang sesungguhnya mereka tidak layak menerimanya. Mereka harus sadar itu. Demikian juga kita semua datang dari TUHAN, itu adalah hadiah buat kita.


Pengulangan yang sama juga kita lihat pada kalimat “masuk … menduduki tanah” merebut dan menduduki tanah tersebut adalah hal lain, Israel perlu bekerja keras pun demikian TUHAN selalu beserta mereka, saat Israel berperang untuk memiliki Tanah yang diberikan tersebut ada harga yang harus dibayar, tidak hanya duduk dan berpangku tangan. 

Keselamatan adalah hadiah dari TUHAN, tetapi kita harus masuk dan memiliki, mendudukinya, dan TUHAN tidak memaksa kita untuk itu, itu pilihan kita, kita mau masuk dalam keselamatan dan menghidupinya dan berjuang in our daily life atau hanya diam saja.

Mengenai Tanah yang dijanjikan TUHAN, TUHAN mengatakan bahwa Kanaan diberikan menjadi milik mereka selamanya, hal ini tidak berarti mereka bisa mendudukinya selamanya. Untuk menduduki tanah tersbut mendiami dan mengolahnya untuk menikmati hasil tanah tersebut ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Mendiami Kanaan ada syaratnya. Mereka tinggal didalamnya dan menikmatinya tergantung dari bagaimana mereka menghidupinya, bukankah demikian juga dengan hidup kita?


Pesan di Kitab ulangan sangat sederhana, Israel bisa mendiami Kanaan dan menikmatinya selama mereka mentaati Hukum TUHAN. Tetapi jika Israel melanggar hukum TUHAN, meski mereka memiliki tanah Kanaan yang diberikan TUHAN namun mereka tidak bisa bebas hidup dialamnya bahkan tidak bisa menikmati hasil tanah tersebut. Itulah sebabnya disini Musa kembali mengulang dan mengulang serta memberi penjelasan tentang Hukum TUHAN yang harus mereka ingat, lakukan dan taati sepanjang hidup mereka, dari generasi ke generasi.


Kitab ulangan disusun oleh Musa seperti menyusun sebuah perjanjian, ya benar, generasi kedua ini belum mengikat Perjanjian (Covenant) dengan TUHAN oleh sebab itu Musa menyusunnya demikian

  • Pembukaan  Ulangan 1:1-5
  • Prolog sejarah Ulangan 1:6-4:49
  • Deklarasi Prinsip dasar yang harus ditaati Ulangan 5-11
  • Rincian bagaimana pelakasanaan hukum-hukum Ulangan 12-26
  • Sanksi/hukuman atas pelanggaran Ulangan 27-28
  • Seruan Doa dan saksi Ulangan 30:19, 31:19, 32
  • Penyertaan dan Pemeliharaan TUHAN terus berlanjut Ulangan 31-34

Dengan melihat hal diatas sangat wajar jika kita saksikan kisah sepanjang Alkitab mengapa TUHAN menghukum atau memberikan sanksi kepada Israel, yak arena mereka sudah menandatangani perjanjian dan mereka melanggarnya. Dua macam hukuman yang kita lihat sepanjang sejarah Alkitab, Hukuman dari alam dan Hukuman dari bangsa lain lewat Perang. Jika menggunakan alam Israel tidak jera, tidak memelihara hukum-hukumNya dan tidak bertobat maka  TUHAN pakai bangsa lain untuk menyerang menghukum Israel, dan dalam hal ini yang sering TUHAN pakai adalah Filistin.


Siapa sesungguhnya yang menghuni Tanah Kanaan? Kanaan dihuni oleh campuran bangsa Amori dan bangsa Kanaan, Filistin menyusul kemudian. Tuhan memerintahkan Israel untuk membinasakan habis bangsa-bangsa ini dan mendiami negeri tersebut.  Setelah ditinggal selama 400 tahun bangsa-bangsa yang mendiami Kanaan moralnya mencapai kemerosotan yang demikian gelap dan dalam. Arkeolog banyak menemukan bukti tentang penularan penyakit-penyakit kelamin akibat hubungan seksual, jadi kalau TUHAN marah jika ada perzinahan antara Israel dengan bangsa-bangsa Kanaan, ini akan menulari seluruh bangsa Israel. TUHAN menghukum bangsa-bangsa yang mendiami Kanaan ini dan menggantinya dengan bangsa Israel. Firman TUHAN berkata demikian :

Bukan karena jasa-jasamu atau karena kebenaran hatimu engkau masuk menduduki negeri mereka, tetapi karena kefasikan bangsa-bangsa itulah, TUHAN, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu, dan supaya TUHAN menepati janji yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub. (Deu 9:5)


Bangsa-bangsa tersebut hidup dalam kefasikan, imoralitas, ketidakaadilan, dan penyembahan berhala. Oleh sebab itu kitab ulangan menyorot hal-hal diatas sehingga Israe tidak menirunya atau mereka akan dibinasakan juga.


Kitab Ulangan adalah buku terakhir dari lima buku yang ditulis Musa. Dan seperti diatas diceritakan bahwa Kitab ini ditulis dalam masa-masa yang sangat penting, masa-masa transisi bagi orang-orang Israel. Mereka akan masuk ke Kanaan tetapi pemimpin mereka, Musa tidak akan menyertai mereka. Saat ini Musa berusia 120 tahun tetpai Alkitab katakan dia masih kuat dan matanya masih tajam, namun dia memasuki masa-masa akhir hidupnya, sebentar lagi TUHAN menguburkan dia.  Menyaksikan bagaimana orang-orang tua dari generasi yang sekarang bertindak di masa lalu , Musa kawatir jika generasi ini juga kan melakukan kesalahan-kesalahan yang sama, sama lemahnya seperti leluhurnya, Musa melihat bahwa pertempuran didepan mata yang akan mereka jalani bukan hanya peperangan jasmani tetapi juga peperangan rohani. Itulah sebabnya dia sangat perlu berbicara panjang lebar dengan generasi ini.


Dalam minggu terakhir dalam hidupnya Musa berbicara tiga kali dengan penuh emosi dan sangat personal, bayangkan Musa bersama-sama mereka selama 40 tahun… bagaimana nggak bawa perasaan!! Seperti seorang bapak yang lagi sekarat menjelang mati berpesan untuk yang terakhir kali kepada anak-anak yang dikasihinya dan tahu betullll sifat-sifat anak-anaknya.. buku ini jika dibaca dengan betul akan sangat menguras emosi. Ini adalah pesan atau wasiat terakhir dan juga perjanjian dari seorang Nabi terbesar sepanjang sejarah perjanjian Lama, perkataan dari TUHAN buat umatNya, Israel.


Kitab Ulangan adalah kunci akan sejarah Israel di Perjanjian Lama. Tidak mampu dan tidak mau membinasakan bangsa-bangsa Kanaan dari negeri yang dijanjikan saat mereka tiba pertama kalinya, ada banyak alasan, tak lama setelah itu mereka melakukan perkawinan dengan orang-orang Kanaan  semakin jauh mengakibatkan mereka ikut praktek penyembahan dewa-dewa sembahan orang-orang Kanaan. Jika kita baca terus, baru sampai pada masa Daud memerintahlah mereka akhirnya bisa mendiami seluruh tanah yang TUHAN janjikan tersebut, butuh ratusan tahun perjuangan dan pergumulan untuk klaim janji TUHAN. Namun dalam waktu 500 tahun kemudian mereka kehilangan semuanya itu seperti yang nanti kita akan baca di kitab Raja-raja. 

Dari sejarah Israel kita melihat bahwa Ketaatan dan hidup benar akan membawa kita pada berkat, ketidaktaatan dan kejahatan akan membawa pada kutuk. Semua terpapar jelas dalam kitab Ulangan. 
Kitab ini sangat penting sebagai pembelajaran, tidak salah jika penulis pejanjian Baru banyak mengutip dari kitab Ulangan, paling tidak ada dikutip sampai 80 kali di 27 Kitab Perjnjian baru, Paulus banyak memakai kutipan dari Ulangan.  Kitab ini adalah cermin, contoh sekaligus peringatan.


  • Musa menyebutkan seorang nabi yang akan datang dalam kitab Ulangan ini, yang Musa maksudkan adalah Yesus, kelak Musa alan masuk juga ke negeri yang dijanjikan dan bertemu Yesus

  • Yesus sangat mengenal kitab Ulangan, saat dicobai di padang gurun, Yesus banyak memakai perkaataan dari Kitab Ulangan

  • Saat Yesus ditantang untuk menyimpulkan Hukum Musa, DIA mengutip dari Ulangan (Kasihilah TUHAN Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akalbudimu dan segenap kekutanmu) dan Imamat (kasihilah sesama manusia seperti engkau mengasihidirimu sendiri).

So bagaimana kita bersikap setelah membaca kitab Ulangan ini yang adalah sejarah isarel dan hukum-hukum Musa? Kita tidak berada dibawah hukum Musa tetapi didalam Kristus. Kita baca selidiki dan cari tahu bagian mana dari Perjanjian Lama yang diulangi dan diperjelas lagi di perjanjian baru dari situlah kita bertolak. Contohnya, dari Sepuluh Hukum Torat melakukan Sabbath seperti PL tidak dilakukan oleh Yesus dan Murid-muridNya, Yesus memberikan penjelasannya, bahkan Yesus sendirilah TUHAN atas hari Sabbath. Tentang persepuluhan juga tidak ditekankan di Perjanjian Baru, tetapi ada penekanan untuk memberi dengan murah hati, generous, dengan sukacita dan dengan merdeka, saudara bisa cari di blog ini tulisan saya tentang persepuluhan. Masih ada banyak yang di PL diberikan penjelasan di PB sehingga kita menjadi mengerti apa maksudnya perjanjian Lama.


Kitab Ulangan adalah buku yang sangat penting dalam sejarah bangsa Israel, bukan hanya karena merupakan salah satu buku yang ditulis oleh Musa. Tetapi karena buku ini mengingatkan mereka akan masa lalu, sejarah mereka, mengajar mereka bagaimana harus hidup di masa sekarang, dan mendorong mereka untuk menyambut masa depan lebih baik lagi. Buku ini adalah refleksi begitu besarnya perhatian Musa terhadap orang-orang yang dipimpinnya supaya kedepan sepeninggal dia, orang-orang ini dan keturunannya tidak tersesat seperti bapa leluhurnya.   

Pada saat yang sama buku ini juga memperlihtakan keinginan mendalam dari TUHAN  untuk umatNya supaya dengan menghormati TUHAN, honouring and respecting GOD mereka bisa layak tinggal di tanah yang DIA berikan kepada mereka dan menikmati hasil tanah tersebut.



TUHAN memberkati

@peterskriss


Wednesday, March 29, 2017

Pengantar Untuk Bilangan



Kita sampai pada Kitab Bilangan, cukup masuk akal diberi nama kitab Bilangan, dalam bahasa Inggris disebut Numbers, karena diawali dengan penghitungan dan diakhiri dengan penghitungan pula, yakni sensus. Sensus pertama diambil saat Israel meninggalkan Sinai, satu bulan setelah Tabernakel didirikan. Total yang terhitung ada 603,550. Sensus kedua diambil saat mereka tiba di Moab, sebelum masuk ke tanah Kanaan hampir 40 tahun setelah sensus yang pertama dilakukan, terhitung 601,730. Berkurangg 1,820 jiwa. Perlu diketahui yang dihitung adalah laki-laki sehat yang siap untuk berperang, jadi seperti wajib militer.

Dalam bahasa Ibrani, kitab ini disebut Bemidbar, artinya adalah di Padang Gurun. Buku ini mencatat perjalanan bangsa Israel di padang gurun, yakni dari Gunung Sinai ke Kadesh Barnea sampai mendekati daerah Kanaan, sangat dekat hanya berjarak 11 hari perjalanan. Namun yang terjadi adalah perjalanan ini menjadi 38 tahun. Ya, benar!!! 38 tahun mengembara di padang gurun. Dimulai dari setalh di”tandatatangan”in Perjanjian antara TUHAN dan Israel.  Perjalanan ini kira-kira terjadi antara th 1446 sampai 1406 BC. Secara tradisi buku ini ditulis oleh Musa bersama buku Kejadian keluaran Imamat dan Ulangan.

Kitab bilangan mencatat semua yang terjadi dan yang dialami oleh orang Israel di padang gurun, pemberontakan demi pemberontakan, keraguan dan ketidakpercayaan yang membawa mereka berputar dipadang gurun dan generasi ini tidak masuk ke Tanah Kanaan karena ketidakpercayaan mereka. Musa pun mengalami hal yang sama karena tidak hormat pada TUHAN dia tidak boleh juga masuk ke Tanah KANAAN. Padahal mujizat menyertai mereka kemana mereka pergi. Perjalanan ini dimulai dari gunung Sinai ke lembah Moab di perbatasan Kanaan, seberang sungai Jordan.
Buku ini memnag membosankan di awal-awal chapter, yakni pasal 1 sampai pasal 9. Setelah sampai pada pasal sepuluh barulah petualangan dimulai.

Seperti diatas dikatakan sensus pertama dilakukan oleh Musa dan Harun, tidak ada yang salah dengan sensus dan menghitung tentara. Yang penting motivasinya, Daud dihukum oleh TUHAN saat melakukan sensus penduduk karena dimotivasi oleh kesombongan, pride. Berikut lagi tidak salah dengan menghitung, pada saat gereja mula-mula ditambahkan 3000 pada saat Petrus berkotbah.
Jumlahnya kok sedikit banget yak? Sekitaran enamratusan ribu. Jangan salah sangka saudara, enam ratus ribu itu hanya jumlah tentaranya saja, yang dihitung hanyalah laki-laki yang berusia 20 tahun keatas jadi bukan semua orang yang keluar dari Mesir. Jika seluruh orang Israel yang keluar dari Mesir dihitung maka angkanya apling sedikit ada dua juta orang, jadi angka 603,550 adalah fraksi tentara saja. 

Details angka diberikan supaya kita dapat  belajar sesuatu; 30 persen dari total populasi adalah tentara, jumlah yang cukup signifikan jika populasi ini mau berperang. Namun bilangan ini kecil jika dibandingkan dengan jumlah tentara Daud yang disebutkan di 2 Samuel,  Daud dilaporkan memiliki 1,300,000 tentara. Angka 603,550 juga angka yang kecil dibandingkan dengan bangsa-bangsa yang mendiami Kanaan, lihat saja daftar bangsa-bangsa yang dikalahkan oleh Yosua, tercatat di Kitab Yosua. TUHAN mengajar bahwa mereka menang bukan karena kekuatan mereka tetapi karena TUHAN berada di pihak mereka, TUHAN berperang bagi mereka! Padang gurun begitu luas mampu menampung mereka. Dan bayangkan bagaimana provide dua juta orang ini di padang gurun, berapa banyak manna yang diturunkan tiap pagi, berapa banyak burung puyuh yang diberikan TUHAN, berapa gallon air yang diperlukan setiap harinya, membuktikan bahwa TUHAN itu MAHA BESAR.

Selisih angka sensus pertama dan sensus kedua tidak begitu jauh, hanya 1,820 jiwa, ini keren!!! Bagaimana selama 38 tahun bisa menjaga populasi dengan baik ditengah lingkungan yang tidak ramah, ditengah padang gurun dan selalu berpindah, jikalau bukan TUHAN pasti tidak mungkin.
Simeon berkurang 37,100 sementara Manasye bertambah 20,500. Yang lainnya kurang lebih hampir sama. Kita bisa mengambil kesimpulan dari angka ini bahwa TUHAN memelihara mereka dengan sungguh, menjaga jumlah populasi selama 38 tahun tetap relative sama itu adalah luar biasa. Ini TUHAN yang berkarya.

38 tahun berselang dari sensus yang pertama ke sensus yang kedua, sampai seluruh generasi yang keluar dari Mesir binasa di padang gurun. Generasi yang baru lahir dan melanjutkan perjalanan ke Kanaan.  Jadi meskipun angka sensus pertama dan sensus kedua relative sama namun tidak dengan orang-orangnya, mereka adalah generasi yang berbeda, kecuali Musa, Yoshua dan Kaleb. 

Jadi sebenarnya Kitab Bilangan adalah kitab yang menyedihkan, kita seharusnya bisa liat mayat-mayat bergelimpangan sepanjang 38 tahun. Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh sebelas hari akhirnya menjadi 13,780 hari. Hanya karena mereka tidak mau masuk ke Tanah yang TUHAN sudah janjikan. Biarpun banyak hal negative kita juga belajar dari Kitab Bilangan ini, Paul berkata dalam suratnya kepada orang Korintus :
Tetapi sungguhpun demikian Allah tidak berkenan kepada bagian yang terbesar dari mereka, karena mereka ditewaskan di padang gurun. Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat, (1Co 10:5-6)

Setelah Musa selesai dengan pengajaran Torah, dan Tabut perjanjian sudah dibuat, Kemah Tabernakel sudah lengkap, umat bersiap untuk masuk tanah Perjanjian, Kanaan, dan dari Sinai sampai Kadesh Barnea lanjut ke  perbatasan Tanah Kanaan hanyalah 11 hari perjalanan jalan kaki. Tetapi ketika bangsa ini sampai di Kadesh Barnea, bangsa ini menolak untuk masuk tanah Kanaan saat TUHAN memerintahkan mereka untuk segera masuk.

Banyak kehidupan orang percaya berakhir berputar-putar di padang gurun karena walaupun mereka sudah dibebaskan diselamatkan dari dosa, mereka tidak bisa menikmati berkat dan kasih karunia yang TUHAN telah siapkan buat mereka, hnya karena mereka tidak taat.

Dua pertiga kitab Bilangan adalah tentang perjalanan yang berkepanjangan, berlarut=larut yang seharusnya bisa dihindari. Alkitab adalah buku yang sangat apa adanya, jujur mencertitakan secara terus terang, melaporkan tentang kegagalan dan keburukan sama juga melaporkan tentang kesuksesan dan kebajikan. Paul berkata kepada jemaat di Korintus bahwa kitab Bilangan ditulis sbagai contoh dan peringatan bagi mereka, pernyataannya sangat jelas bagi kita juga bahwa  Bilangan ditulis sebagai peringatan bagi kita untuk itu kita harus juga mempelajarinya, jika tidak maka bisa bisa kita mengulagi kesalahan yang sama dan akhirnya berputar-putar di padang gurun. Bahkan Musa pun tidak diperkenankan masuk ke Kanaan karena dia gagal untuk taat, meskipun beberapa abad kemudian Musa berhasil masuk ke Kanaan juga, intinya leader sekalipun tidak pengecualian.

Musa menyusun Kitab Bilangan ini nampaknya secara kronologis, meski kita nanti temukan ada pengajaran tentang hukum-hukum ditengahnya namun itu dilakukan dalam perjalanan mereka dari Sinai ke Kadesh Barnea dan dari Kadesh barnea  ke Moab. Lebih jauh kita tarik ke belakang, kronologisnya adalah sebagai berikut

  • Keluaran 1 – 18, perjalanan dari Mesir ke Sinai durasinya 50 hari
  • Keluaran 19 – 40, Leviticus 1 – 27, Bilangan 1 – 10, di Sinai mereka berkemah durasinya kurang lebih 2 tahunan disini mereka dipersiakan menjadi sebuah bangsa
  • Bilangan 10 – 12, perjalanan dari Sinai ke kadesh barnea durasinya 11 hari, pemberontakan terjadi
  • Bilangan 13 – 19 Israel berkemah di Kadesh Barnea, TUHAN  berbicara kepada mereka  setelah pemberontakan yang terjadi
  • Bilangan 20 – 21 dua pasal ini mencakup perjalanan bangsa Israel 38 tahun dari Kadesh Barnea ke Moab
  • Bilangan 22 – 36 meliput apa yang TUHAN firmankan saat mereka menunggu waktu menyebrang ke Tanah Kanaan. Ini ironis, saat Bileam memberkati Israel justru mereka malah melacurkan diri dengan dewa-dewa Moab
  • Ulangan 1 – 34 juga dalam kronologis waktu yang sama dengan Bilangan diatas, Musa menceritakan ulang kisah mereka saat mereka menunggu wakttu menyeberang.

Kitab bilangan ditulis supaya generasi Israel berikutnya bisa belajar mengenal takut akan  TUHAN dan belajaar dari kesalahan Moyang mereka. Demikian juga bagi orang-orang Kristen bisa belajar dari kegagalan mereka.  Seperti yang Paulus tuliskan kepada jemaat di Korintus. Meski kita sudah dibebaskan kita bisa jadi hidup dan mati di padang gurun, kita bahkan mengingat-ingat “nikmatnya dosa” dan menengok ke belakang sehingga kitatidak bisa melihat kedepan dan melangkah maju menuju Tanah Perjanjian dimana TUHAN janjikan berkat-berkatnya.

Kita belajar mengenal karakter TUHAN dari Kitab Bilangan , sangat jelas bisa kita lihat tentang kebaikan TUHAN sekaligus kekerasan TUHAN yang banyak disebutkan dalam kitab Perjanjian Baru Roma, Ibrani, Yudas, 2Petrus. Yudas bahkan menyebut Korah dan Bileam. Menggerutu, bersungut-sungut dan komplain adalah problem yang ada di gereja sama seperti masalah yang TUHAN hadapi dengan bangsa Israel.   

Jadi kita bercermin dari Kitab Bilangan untuk semua itu.

Satu sisi kita melihat TUHAN yang begitu baik, menyediakan makanan dan air pakaian dan segalanya. Kita juga melihat TUHAN menjaga dan melindungi bangsa Israel dari musuh-musuhnya yang jumlahnya lebih besar dan juga ukurannya lebih besar dan perkasa, TUHAN menjaga dan melindungi mereka meskipun mereka berdosa kepadaNYA.

Disisi lain kita melihat keadilanNYA. TUHAN itu setia pada perjanjianNYA, DIA akan menghukum mereka yang melanggar perjanjianNYA, berdosa. Inilah kedisiplinan itu. Bahkan bisa kehilangan janji tersebut jika merea terus menerus tidak taat dan menuruti hawa nafsu sendiri.
Kita juga bisa melihat Yesus di Kitab Bilangan

  • Yesus dicobai di Padang gurun selama 40 hari sama seperti Israel di padang gurun 40 tahun
  • Perhatikan ini : Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Joh 3:14-16). Musa meninggikan ular tembaga bayangan Yesus akan disalib
  • Yohanes mengatkan Yesus adalah manna, roti dari Sorga
  • Paulus menyebutkan tentang batu yang dipukul dan mengeluarkan air, mengatakan bahwa batu tersebut aadalah Kristus
  • Ibrani mengatakan tentang lebih hebatnya korban darah Yesus, ibrani 9:13 – 14, mengutip bilangan pasal 19 ayat 9 dan ayat 17 -19.
  • Nubuatan Bileam tentang Yesus Kristus : Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel, dan meremukkan pelipis-pelipis Moab, dan menghancurkan semua anak Set. (Num 24:17) sangat luar biasaaaaaa

Ada apa lagi di kitab Bilangan?

Mungkin yang paling dikenal adalah ayat berkat di Bilangan 6:24-26

TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; 
TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia
TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.

The LORD bless you and keep you
the LORD make his face shine upon you and be gracious to you;  
the LORD turn his face toward you and give you peace." '

berkat ini berlaku bagi kita juga orang-orang percaya. Grace and Peace, bahkan dalam surat-surat di Perjanjian baru ditulis ‘ Grace and peace to you from GOD our Father and the Lord Jesus Christ’
kita juag bisa menerima dan menikmati berkat ini dan fellowship dengan TUHAN seperti yang orang Israel nikmati jika kita mengindahkan pelajaran yang kita dapat di kitab Bilangan.

Selamat membaca!!


@peterskrissnolo